Film review: Sokola Rimba

Posted on 20 May, 2014

AIYA Victoria member Sam Shlansky reviews Sokola Rimba, shown at the recent Indonesian Film Festival.

Film ini bercerita tentang kekuatan manusia. Film ini punya resep hebat untuk film yang sangat baik. Baik cerita maupun akting pemain filmnya menarik sekali. Faktor lain yang penting dalam resep sukses ini adalah tim film yang baik. Mira Lesmana dan Riri Riza adalah tim produksi film yang terkenal untuk film Indonesia yang bagus sekali.

Mira Lesmana (yang turut hadir di ACMI untuk menonton film ini) berkata bahwa film ini tentang “pergi ke tanah luar sehingga penonton dapat melihat muka Indonesia”. Betul, di film ini kami lihat masalah modern yang dihadapi oleh rakyat Indonesia. Sayang sekali, sebelum film Sokola Rimba, kurang banyak orang yang tahu tentang masalah ini.

Cerita ini didasarkan pada pengalaman Butet Manurung. Dia adalah seorang aktivis dan guru yang cerita hidupnya harus diangkat menjadi film. Di film Sokola Rimba, kami lihat perjuangan baik Bu Manurung maupun Orang Rimba. Semakin lama menonton film ini, semakin penonton merasakan perjuangan keduanya. Butet dengan menarik menjelaskan hubungan menarik antara hutan dan dunia modern.

Penonton dapat merasakan kesulitan Bungo yang mau mengejar pendidikan tetapi dibatasi oleh adat istidat. Kami juga dapat melihat kekuatan Butet menghadapi masalah penyakit, tradisi Orang Rimba dan membuka dunia yang adil dengan pendidikan untuk Orang Rimba.

Orang Rimba “terjebak di kebingungan” (kata dari film) karena dampak modernisme, masalah lingkungan dan pertentangan antara adat istiadat dan pendidikan. Semua masalah mempunyai cukup waktu di film. Tetapi tidak ada kritis keras dari film. Sebetulnya film ini mau masalahnya didiskusikan oleh penonton. Menurut pendapat saya, filmnya berhasil karena ini. Kami merasakan perjuangan anak yang hanya mau pendidikan. Kami merasakan tidak ada tujuan untuk Orang Rimba. Kami pikir orang seperti Bu Manurung adalah satu-satunya harapan di dunia modern ini. Film ini bukan kuliah, film ini adalah pendidikan.

Saya suka film ini karena alasan itu. Saya dapat menikmati gambar hutan dan anak lucu sambil menyadari masalah besar. Gambar di film ini baik sekali. Teknik kameranya menarik dan penggunaan media campur (ada gambar animasi) indah sekali. Film ini juga kali pertama Orang Rimba tampil di film. Akting Orang Rimba unik dan otentik. Gaya akting ini khas digunakan dalam film-film Bu Lesmana dan Pak Riza.

Sebagai kesimpulan, saya suka baik cerita maupun filmnya. Percampuran keduanya menjadikan film ini tontonan maupun pelajaran yang hebat.

Bu Manurung (yang turut hadir di ACMI untuk menonton film ini) berkata “masalahnya bukan tentang tidak cukupnya pendidikan. Masalahnya tentang tidak cukupnya rasa bangga”. Saya merasa bangga untuk Orang Rimba. Karena film ini, ada banyak orang yang merasa bangga untuk Orang Rimba. Orang Rimba punya suara.

Sam attended Sokola Rimba as a guest of the Indonesian Film Festival.