Another Country: Sebuah Esai Tentang Kehidupan Dari Ramingining

Posted on 19 August, 2015

Festival Film Internasional Melbourne (MIFF) baru saja diselanggarakan pada tanggal 30 Juli-16 Augustus di kota Melbourne. Tahun ini MIFF menayangkan film dari berbagai negara termasuk film lokal yang dibuat di Australia. Salah satu film Australia yang muncul di MIFF tahun ini adalah Another Country. Berikut tanggapan pakar film Dr Gaston Soehadi terhadap film tersebut.

Aktor dan narator film Another Country, David Gulpilil. Foto: Gaston Soehadi
Aktor dan narator film Another Country, David Gulpilil. Foto: Gaston Soehadi

Another Country (2015, 75 menit) adalah sebuah film dokumenter yang menggambarkan kehidupan masyarakat asli Australia (Aborijin) di Ramingining yang mengalami gegar (culture shock). Gegar budaya, seperti yang digambarkan dalam film, ini mempunyai akibat yang amat dalam, yaitu kemiskinan. Permasalahan gegar budaya yang berujung pada kemiskinan masyarakat Aborijin ini telah menjadi masalahan nasional di Australia sejak lama. Dalam Another Country, masalah ini diperlihatkan melalui kehidupan sehari-hari masyarakat Aborijin yang menjadi penduduk mayoritas di Ramingining, sebuah kota kecil di Northern Territory.

Dalam sejarah perfilman di Australia, Another Country bukanlah film pertama yang berkisah tentang orang Aborijin yang terlilit kemisikinan. Film terakhir yang saya lihat dan bercerita tentang tema yang sama adalah Utopia (2013), film dokumenter yang dibuat oleh John Pilger, seorang aktivis sosial yang juga berprofesi sebagai pembuat film dokumenter. Perbedaan yang terpenting dari kedua film ini, terletak dari aspek yang ingin dibahas. Utopia (dengan John Pilger sebagai narator) mempunyai alur penceritaan dengan bias politik yang cukup dalam. Sementara itu, Molly Reynolds, sutradara Another Country, melihat permasalahan kemisikinan ini dari sudut pandang perbedaan kebudayaan Australia (di sini yang saya maksud adalah kebudayaan Eropa yang dominan di dalam masyarakat Australia) dan Aborijin. Selain itu, Molly Reynolds memasang David Gulpilil, aktor karismatik Australia berdarah Aborijin sebagai narator. Pemilihan David Gulpilil sebagai narator dan framing permasalahan yang berbeda dari Utopia membuat Another Country muncul sebagai salah satu film dokumenter yang perlu mendapat perhatian.

David Gulpilil sebenarnya telah mencapai puncak karirnya sebagai aktor film ketika ia dianugerahi gelar Best Actor dalam Cannes Film Festival tahun 2014 dalam perannya sebagai Charlie dalam film Charlie’s Country. Another Country tidak saja kembali mengukuhkan nama Gulpilil sebagai aktor nasional dan internasional, lebih dari itu ia menjadi sebuah ikon atau simbol penghubung yang penting antara kebudayaan Australia dan Aborijin. Gulpilil telah hidup di dua kebudayaan yang sangat berbeda ini semenjak pemunculan pertamanya dalam film Walkabout (1971) yang disutradarai oleh Nicholas Roeg. Walkabout juga bukan film pertama yang menjadikan Aborigin sebagai subyek penceritaan. Walkabout adalah film yang memberikan gambaran tentang Aborijin dan kebudayaannya dan Gulpilil berperan sebagai satu-satunya karakter Aborijin dalam film itu, yaitu seorang remaja yang tengah menjalani ritual ‘walkabout’ dimana ia harus bertahan hidup di lingkungan di luar sukunya. Dalam pengembaraan tersebut tokoh yang diperankan Gulpilil bertemu dan bersahabat dengan dua remaja kulit putih yang tersesat di padang rumput.

David Gulpilil lahir pada tahun 1953 di Arnhem Land, Northern Territory. Ia dikenal sebagai bagian dari suku Yolngu, yang sebagian besar bertempat tinggal di Northern Territory ini. Sejak kecil hingga remaja, Gulpilil dan keluarganya lebih banyak menghabiskan waktunya di kawasan yang dikenal sebagai bush dan outback. Ia tumbuh dan mempunyai keahlian sebagai pemburu dan pencari Jejak serta penari tradisional. Roeg berhasil mengangkat Gulpilil dan kebudayaan Aborijin dalam Walkabout. Gulpilil selanjutnya membintangi berbagai macam film, diantaranya Crocodille Dunde yang mencapai kesuksesan komersial secara internasional, tapi yang ia kritik sendiri beberapa tahun kemudian dalam film biografinya Red Blood (Darlene Johnson, 2002). Tiga film penting yang berjasa melambungkan nama Gulpilil sebuah ikon bagi industri film Australia adalah The Tracker (Rolf de Heer, 2002), Rabit Proof Fence (Philip Noyce, 2005) dan Charlie’s Country (Rolf de Heer, 2014).

Another Coutry dibuka dengan sekelompok remaja Aborijin yang menari dengan gerakan tarian tradisional tapi dengan iringan music rap. Adegan yang berlangsung kurang lebih dua menit ini bukanlah sebuah adegan istimewa secara sinematografi. Tapi dalam tinjauan budaya, mungkin dapat memperlihatkan bagaimana pengaruh kebudayaan asing yang telah masuk begitu dalam di kehidupan para remaja ini. Adegan yang mirip dengan adegan pemubuka itu bisa dijumpai dalam bagian tengah Another Country dimana kita melihat para penarinya adalah para wanita Aborijin yang melewatkan kebosanan mereka sehari-hari dengan menari.

Rangkaian adegan berikutnya memperlihatkan seekor kanguru yang tersesat masuk lingkungan Ramingining ini, binatang ini kemudian dikejar-kejar oleh anjing yang lalu menarik perhatian masyarakat Ramingining. Sesaat kemudian seorang pemuda melemparkan tombak membunuh sang kanguru, kemudian menjadi santapan bersama. Adegan kanguru tersesat ini menjadi metafora yang sangat bagus untuk menggambarkan ‘ketersesatan’ orang Aborijin ketika mereka dipaksa untuk hidup di alam kebudayaan Australia. Ketersesatan yang tidak pernah berakhir inilah yang mengakibatkan kebingungan dan kemisikinan merekam karena ketidakmampuan merekam untuk beradaptasi dengan kebudayaan baru.

Sebagai narator, David Gulpilil lebih menampilkan diri sebagai seorang kawan akrab yang tengah bercerita tentang dirinya dan kaumnya yang terpuruk dalam kemiskinan dan kebingungan. Berbeda dengan suara narasi John Pilger yang terdengar formal dan tendensius, narasi yang ditampilkan Gulpilil terdengar sangat santai, bersahaja dan bersahabat karena diselingi oleh canda dan tawa, mentertawakan dirinya sendiri maupun penontonnya. Misalnya, ia berkata di bagian awal filmnya bahwa bagi orang Australia, mengunjungi Ratu Inggris di Inggris terasa jauh lebih mudah daripada mengunjungi Ramingining.

Hal istimewa lainnya dalam gaya bernarasi ini adalah penggunaan kata ‘saya’ dan ‘kamu’ yang menandakan Gulpilil tengah berbicara kepada sang ‘teman’ dalam hal ini penonton di dalam cinema. Disinilah letak keistimewaan Another Country dimana Gulpilil tidak bermaksud menjadikan orang lain (atau kita yang menonton film ini) sebagai pihak yang dia salahkan atau bahkan menciptakan permusuhan. Gulpilil justru ingin merangkul penontonnya dan mengajak mereka memahami kembali mengapa politik asimilasi yang dilakukan terhadap orang Aborijin ini gagal dan apakah penyebab kegagalan tersebut. Menurut Gulpilil penyebab kegagalan ini hanyalah satu yaitu ketidakmengertian pemerintah Australia (yang mayoritas dipegang oleh orang kulit putih) dalam memahami kebudayaan orang Aborijin. Pemerintah Australia tidak mencoba untuk belajar tentang kebudayaan Aborijin, tapi memaksakan orang Aborijin untuk hidup dalam kebudayaan yang bukan kebudayaan asli mereka. Another Country mencoba melihat perbedaan ini dari tiga aspek, yaitu permasalahan lingkungan (sampah), uang dan waktu.

Bagi orang Aborijin, sampah adalah hal yang tidak biasa dalam kehidupan mereka. Tumpukan sampah adalah barang asing dalam tradisi mereka. Hal berikutnya adalah bagaimana peredaran uang memberikan perubahan dalam tradisi hidup kolektif merekam. Dan yang terakhir adalah tentang konsep waktu. Orang Aborijin mempunyai konsep waktu yang bersandar kepada siklus perubahan alam (matahari dan bulan). Perbedaan kebudayaan ini, menurut Gulpilil, adalah hal yang seharusnya dihormati dan jika dihormati maka hal itu tidak akan mengakibatkan satu pihak menjadi korban. Ada juga rangkaian adegan yang memperlihatkan bagaimana mereka menampilkan adegan teatrikal Jesus membawa tiang salib. Hal ini menunjukkan bagaimana pengaruh sebuah agama yang mulanya mungkin tidak mereka kenal, tapi kemudian telah menjadi bagian dari hidup mereka. Another Country tidak saja memperlihatkan gegar budaya yang membawa kegagalan, tapi juga transisi yang ‘berhasil’.

Acara pemutaran perdana Another Country dalam MIFF tahun 2015 ini diakhiri dengan tampilnya David Gulpilil disertai sutradara Molly Reynold dan produser Rolf de Heer dalam acara tanya jawab (Q & A) dengan penonton. Namun yang terjadi ternyata bukan acara Q & A sebagaimana yang sering dijumpai. Gulpilil malah bercerita panjang dan lebar tentang arti penting film ini untuk dirinya, keluarganya, orang Aborijin dan non-Aborijin. Gulpilil kemudian memanggil anggota keluarganya untuk tampil di atas panggung dan yang lebih mengharukan lagi ketika istrinya, Miriam Ashley, menceritakan awal pertemuan mereka. Bagi saya, acara Q & A ini sangat mengesankan karena terlihat dan terasa sebagai khas David Gulpilil.

Malam pemutaran Another Country itu benar-benar menjadi malam kebesaran buat seorang legenda industry film Australia. Another Country bukanlah sebuah film dokumenter biasa, namun sebuah monumen buat Gulpilil walaupun ia hanya muncul sebagai narator. Another Country adalah sebuah esai indah dari Ramingining yang tidak menempatkan Aborijin yang sebagai pihak kalah, tetapi sebagai sebuah masyarakat yang terus berjuang untuk bisa hidup sejajar tanpa mengorbankan kebudayaan mereka sendiri.