Berbagi Pengalaman Mendapatkan Beasiswa LPDP (Bagian 1)

Posted on 2 April, 2016

Albert Christian Soewongsono adalah Penerima Beasiswa Afirmasi LPDP Periode I Tahun 2016, dan Alumni FST Matematika Universitas Nusa Cendana Tahun 2015. Tulisan yang berikut ini adalah pembagian pengalamannya menerima beasiswa LPDP itu.

Hi scholarship hunters!

Pada kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman mendapatkan salah satu beasiswa studi lanjut yang bergengsi di Indonesia, yakni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Perjuangan saya dalam mencari beasiswa ini telah bermula jauh sebelum saya diwisuda pada Desember tahun lalu. Saya telah mencari informasi mengenai berbagai jenis beasiswa lanjut seperti Australia Awards Scholarship (AAS), Fulbright Scholarship sampai dengan New Zealand ASEAN Scholar Awards (NZAS) melalui pameran pendidikan dan sesi informasi yang diselenggarakan baik oleh penyedia beasiswanya maupun para alumninya sejak tahun 2013.

Albert Christian 3
Albert di Sydney, New South Wales, semasa perjalanan di Australia lewat program UniBRIDGE. Foto: Albert Christian Soewongsono.

Pentingnya Prestasi Akademik dan Organisasi

Berawal dari keinginan untuk mendapatkan beasiswa, saya bertekad untuk mempunyai akademik yang baik serta terlibat dalam aktivitas-aktivitas sosial. Dari tekad itu, saya akhirnya bisa lulus dengan IPK 4,00 dengan lama studi tujuh semester. Selain itu, selama studi Strata 1 (S1), saya bersama teman-teman kuliah telah mendirikan beberapa organisasi seperti Mahasiswa Indonesia Timur Relasi Asing (MITRA) dan Australia-Indonesia Youth Association (AIYA) cabang Nusa Tenggara Timur, serta terlibat dalam beberapa aktivitas kemasyarakatan di kota saya tinggal.

Nah, saya ingin menekankan pada teman-teman bahwa selain memiliki prestasi yang baik, pengalaman dalam aktivitas sosial juga sangat penting dalam mendukung Curiculum Vitae (CV) kita saat mendaftar beasiswa. Hal ini karena kebanyakan beasiswa sangat menekankan pada konsep “pembangunan” bagi para penerima beasiswanya, oleh karena itu apabila teman-teman telah mempunyai suatu bentuk pengabdian kepada masyrakat sebelumnya, tentu itu akan menjadi nilai plus bagi reviewer.

Awal Mengenal Beasiswa Luar Negeri

Awal mula saya mengetahui tentang Beasiswa LPDP adalah dari pengumuman mengikuti info session oleh para awardee beasiswa LPDP melalui grup Berburu Beasiswa Ala FAN (BBAF) bertempat di Gedung Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Nusa Tenggara Timur. Melalui info session tersebut saya memperoleh banyak informasi tambahan mengenai apa itu beasiswa LPDP serta tips-tips mulai dari mendaftar hingga mengikuti seleksinya. Saran saya, selain melalui info session, teman-teman juga harus berinisiatif untuk mencari secara mandiri mengenai beasiswa ini melalui website LPDP. Setelah teman-teman paham mengenai beasiswa LPDP ini, teman-teman bisa mulai mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan (yang menurut saya cukup banyak).

Mulai Mendaftar Beasiswa LPDP

Saya mendaftar beasiswa LPDP jalur Afirmasi kategori Terdepan, Terdalam dan Terpencil (3T) Program Magister Luar Negeri untuk periode tahun 2016. Saya melakukan pendaftaran pada 6 Januari 2016. Ada sebuah alasan mendasar mengapa saya memilih mendaftar melalui jalur kategori 3T. Saya kembali kepada tujuan awal dari beasiswa ini, yakni mengharapkan alumninya untuk menjadi kader pemimpin masa depan bangsa untuk membangun daerahnya ke arah yang lebih baik.

Menyiapkan Berkas-Berkas Yang Dibutuhkan

Saya mulai mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan seperti ijazah dari Sekolah Dasar (SD) hingga S1, Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), Surat Keterangan Sehat dan Bebas Narkoba. Khusus untuk program luar negeri harus ada Surat Keterangan Bebas Tuberculosis yang semuanya wajib diurus di rumah sakit pemerintah. Saya waktu itu mengurus di RSUD W.Z. Yohannes. Selain itu harus ada Surat Rekomendasi serta beberapa dokumen lainnya yang dapat dilihat pada: Buku Pedoman Pendaftaran Beasiswa Afirmasi.

Nah, di sini, saya ingin sedikit menekankan pada surat rekomendasi. Menurut saya, keberadaan surat ini akan cukup berpengaruh kepada kualitas berkas kita. Waktu itu, saya memperoleh surat rekomendasi sebanyak lima buah (minimal yang disyaratkan oleh LPDP sebanyak dua buah) dari Ketua Jurusan, Dosen Pembimbing Tugas Akhir dan dari beberapa dosen yang meminta saya menjadi asisten di mata kuliah mereka. Alasan saya mencari Surat Rekomendasi dari mereka adalah berdasarkan rencana saya sepulang studi nanti yakni, ingin mengabdi menjadi dosen di jurusan saya waktu S1 dulu oleh karena itu, pendapat dari mereka mempunyai pengaruh yang sangat besar kepada kualitas berkas yang saya kirim. Bagi yang telah bekerja di sebuah instansi dan ingin tetap mengabdi di instansi tersebut, disarankan untuk mendapatkan surat rekomendasi dari atasan tempat teman-teman bekerja.

Albert di Universitas Murdoch di Perth, Australia Barat, saat pertukaran UniBRIDGE. Foto: Albert Christian Soewongsono.

Selain persiapan surat rekomendasi, dokumen lainnya yang menurut saya cukup menguras tenaga dan waktu adalah esai. Sebab, jumlah esai yang diwajibkan oleh LPDP adalah yang paling banyak jika dibandingkan dengan esai beasiswa lain. Esai yang diwajibkan oleh LPDP antara lain, Kontribusi Bagi Indonesia, Sukses Terbesar Dalam Hidup dan Rencana Studi. Saran saya, yang pertama alokasikan waktu yang cukup dalam menulis esai tersebut sebab esai tidak mungkin dapat diselesaikan dalam satu hingga dua hari. Pengalaman saya dulu ketika menulis esai membutuhkan waktu hingga dua bulan.

Yang kedua, lakukanlah proof reading dari para alumni atau penerima beasiswa LPDP yang kita kenal serta dari teman-teman terdekat. Waktu itu, saya meminta kesediaan tiga teman dan penerima beasiswa LPDP sebelumnya untuk melakukan proof reading terhadap esai yang saya tulis. Selain kedua hal di atas, hal lainnya yang cukup memusingkan saya waktu melakukan pendaftaran awal adalah mempersiapkan sertifikat baik berupa prestasi, seminar maupun pelatihan-pelatihan yang pernah saya ikuti. Alasannya, karena LPDP mensyaratkan ukuran file dokumen yang dapat diupload maksimal 1mb dan dalam format .pdf atau .rar sedangkan, sertifikat yang akan saya upload berjumlah lumayan banyak. Tips dari saya bagi teman-teman, agar mencari software offline maupun online yang dapat mengecilkan ukuran file .pdf. Teman-teman dapat merujuk pada link ini berkaitan dengan mengecilkan ukuran file .pdf.

Selain mempersiapkan dokumen-dokumen tersebut, teman-teman juga bisa mulai membuat akun di LPDP dan mulai mengisi CV online dalam akun masing-masing sejak dini. Hal ini karena ada banyak hal yang harus diisi dan seringkali ada hal yang lupa diisi dalam CV entah itu aktivitas atau kegiatan perlombaan yang pernah diikuti hingga pengisian data diri. Teman-teman tidak perlu khawatir sebab data dalam akun masing-masing dapat diedit kembali apabila belum mengklik tombol “Submit”. Link pembuatan akun dapat dilihat di sini.

Akhirnya, setelah semua dokumen selesai dipersiapkan dan data dalam akun telah terisi dengan lengkap, saya mengirimkan berkas saya secara online pada 6 Januari 2016. Teman-teman dihimbau untuk mengirimkan jauh-jauh hari sebelum batas akhir pendaftaran karena biasanya mendekati batas akhir pendaftaran, akun kita akan sulit untuk diakses disebabkan oleh banyaknya pendaftar yang masuk pada waktu yang bersamaan. Saya berhasil melakukan submit pada dini hari setelah menunggu kurang lebih sejam ketika tidak ada terlalu banyak peserta lain yang melakukan pendaftaran. Setelah selesai mendaftar, saya tidak lupa untuk memanjatkan doa agar segala sesuatu yang telah dipersiapkan dengan baik pasti akan memberikan hasil yang baik pula.

Bersambung dengan Bagian 2 yang akan diterbitkan minggu depan…

Artikel ini sudah diterbitkan sebelumnya di website MITRA. AIYA mengucapkan terima kasih kepada MITRA sudah membiarkan artikelnya diterbitkan lagi di sini.