Pengalaman AIYEP Yang Merupakan ‘Program Sick’: Renza Tahalele

Posted on 25 August, 2016

“Kami memiliki tugas untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke sekolah-sekolah yang ada di Australia…”. Renza Tahalele mengisahkan perjalanan menarik mengetahui bahasa Inggris serta pengalaman mengesankan selama AIYEP.

Dulu, waktu saya masih kecil, saya tidak pernah menyangka bahwa belajar Bahasa Inggris akan sangat berguna bagi saya di kemudian hari. Sebagai seorang anak kecil saya selalu bingung bagaimana bahasa orang lain, dapat membantu kehidupan seorang anak kecil yang tinggal di salah satu kota di timur Indonesia? Saya tidak mungkin bermain layang-layang dengan teman-teman sambil berbicara dalam bahasa Inggris; penjual ikan di pasar juga pasti bingung kalau saya menawar dengan Bahasa Inggris. Manfaat Bahasa Inggris barulah terasa seiring bertambahnya usia. Itupun hanya sebatas untuk mendengarkan lagu-lagu bahasa Inggris yang sedang populer pada waktu itu. Bisa mengerti apa maksud dari lagu-lagu dengan Bahasa Inggris terasa benar-benar keren waktu itu.

Dari lagu-lagu itu jugalah saya banyak menemukan kosa kata baru yang kemudian saya cari artinya dan saya dengar cara melafalkannya. Tapi baru sebatas itu saja. Pada masa-masa berkuliahlah, Bahasa Inggris kemudian sangat membantu. Begitu banyak literature bahasa Inggris yang harus dibaca dan dimengerti untuk keperluan perkuliahan. Membaca langsung dari buku Bahasa Inggris dan bukan dari terjemahannya memberi nilai tambah dalam tiap tugas kuliah yang diberikan. Dan lagipula masih banyak buku-buku berbahasa Inggris yang belum diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Picture1
Renza bersama peserta-peserta AIYEP yang lainnya saat pertunjukan budaya atau cultural performance di Australia. Foto: Renza Tahalele

Kemudian beberapa teman-teman saya yang memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik berangkat ke berbagai Negara asing. Dari situ saya kemudian berangan-angan untuk juga dapat pergi keluar negeri. Bukankah akan sangat menarik jika kita bisa melihat dan mengalami langsung kehidupan di tempat lain dengan budaya yang berbeda? Kira-kira begitulah pikiran saya waktu itu. Hingga akhirnya saya kemudian menemukan kesempatan tersebut lewat Pertukaran Pemuda Indonesia Australia (PPIA) atau Australia Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP). Program ini diikuti oleh pemuda dan pemudi yang sudah melewati seleksi yang ketat dari berbagai provinsi di Indonesia. Karena itu, terpilih menjadi salah satu wakil Indonesia dari Provinsi Maluku, terasa sangat membanggakan.

Untuk memantapkan semua peserta yang telah terpilih, berbagai materi diberikan oleh para senior yang sudah pernah mengikuti program. Salah satu istilah yang paling sering saya dengar pada saat itu adalah ‘program sick’ salah satu senior bahkan pernah nyelutuk kalau, program sick tidak akan pernah sembuh selamanya. Saya harus bilang bahwa pada saat itu, saya merasa bahwa mereka hanya melebih-lebihkan. Program ini hanya berjalan kira-kira 4,5 bulan, jadi tidak mungkin ada yang namanya program sick yang seakut itu.

Sampai kemudian fase Australia kami lalui. Belajar kebudayaan orang lain dengan cara mengalami langsung dan hidup bersama-sama merupakan hal yang sangat menyenangkan. Kami berkesempatan untuk bekerja dan tinggal dengan keluarga di Australia. Australia membuat saya terkejut dengan keramahan orang-orangnya. Rekan kerja dan keluarga yang menampung saya sangat bersahaja dan selalu memaklumi kebiasaan saya yang mungkin tidak biasa bagi mereka. Selain itu kami berdelapanbelas delegasi dari Indonesia memiliki tugas untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke sekolah-sekolah yang ada di Australia. Salah satu bentuk pengenalan Budaya yang kami lakukan adalah dengan melakukan cultural performance, di mana kami menampilan baju-baju daerah, musik dan juga tarian dari Indonesia. Melihat betapa antusiasnya siswa-siswi Australia saat menyaksikan kami tampil, selalu membuat kami semangat untuk menampilkan yang lebih baik lagi. Mereka ternyata sangat bersemangat mempelajari kebudayaan Indonesia.

Picture2
Renza bersama teman-teman AIYEP lainnya. Foto: Renza Tahalele

Australia juga membuat saya terkejut dengan keragamannya. Saya menemukan bahwa orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda datang ke Australia dan tidak melupakan asal-usul mereka sama sekali. Ada beragam kelompok etnis di Australia yang juga masih merayakan kebudayaan mereka walaupun tinggal jauh dari negara asal mereka. Hal yang sama berlaku juga dengan orang-orang Indonesia, saat di Sydney, saya sempat mengikuti perayaan Kuningan, yang diadakan oleh komunitas Bali di sana. Saya belum pernah ke Bali, namun saya yakin, jika saya merayakan Kuningan di Bali, suasananya akan persis sama dengan yang ada di Sydney. Postingan foto saya saat ikut perayaan Kuningan di Instagram pun mendapat komentar dari teman saya yang ada di Bali, “Lagi di Bali ya?”. Saya lalu sadar, betapa Australia merupakan tempat yang ramah bagi tumbuhnya keragaman. Justru keragaman inilah yang membuat Australia begitu menarik.

Pengalaman saya mengikuti AIYEP merupakan pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Belajar bahasa Inggris selama ini, ternyata membantu sangat banyak. Saya jadi berkesempatan bertemu orang-orang dari berbagai negara dengan kebudayaan berbeda di Australia. Mengalami sendiri kehidupan yang berbeda dengan kehidupan dari mana saya berasal membuat saya bersemangat untuk mengalami yang lebih banyak lagi, bertemu lebih banyak orang, mendengarkan lebih banyak cerita. Saya lalu teringat kembali cerita senior-senior program tentang program sick mereka. Ah, ternyata memang benar! Sakit ini tidak akan sembuh-sembuh. Walaupun program ini telah berakhir, namun semua peserta program baik dari Indonesia maupun Australia masih terus berhubungan baik. Dan ternyata banyak yang jalan hidupnya bersimpangan satu sama lain.

Refleksi ini adalah bagian berikutnya dari serangkaian refleksi dari para peserta Program Pertukaran Pelajar Australia-Indonesia (AIYEP). Bacalah lebih banyak tentang pengalaman para peserta AIYEP di sini. AIYA ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada Samantha Howard atas bantuan yang cukup besarnya dengan menyunting artikel-artikel dalam seri ini. Dia dapat ditemukan online di sini dan di sini.