Novel Review: Laut Bercerita (Bahasa)

Posted on 23 August, 2018

Judul: Laut Bercerita

Penulis: Leila S. Chudori

Penyunting(s): Endah Sulwesi, Christina M. Udiani

Penerbit: KPG, 377 pages

ISBN: 978-602-424-694-4

Genre: Fiksi Sejarah

Rating: 4/5

 

“Kepada mereka yang dihilangkan dan tetap hidup selamanya”

Pembuka

            Sebelum menyelam ke dalam karya Leila, ada beberapa fakta yang perlu kita ingat: buku ini merupakan karya yang terinspirasi dari wawancara yang Leila lakukan dengan Nezar Patria, salah seorang korban penculikan dari Peristiwa Mei 1998. Ditulis oleh seorang Wartawan, Novelis, dan Aktivis, Laut Bercerita mengisahkan sebuah kisah fiksi yang diangkat berdasarkan pengajian panjang Leila dari potongan-potongan sejarah yang terlupakan bersama dengan para korban serta keluarga yang ditinggalkan.

            Laut Bercerita merupakan kisah tragedi kemanusiaan yang ditinggalkan oleh Biru Laut kepada mereka yang mencintainya. Buku ini terpenggal menjadi dua karakter utama: Biru Laut, seorang mahasiswa idealis yang merangkap aktivis dan sang adik, Asmara Jati, calon dokter yang mengetahui segala aktivitas terlarang Laut Biru dan organisasi/kelompok belajarnya. Melalui Biru, pembaca dikenalkan lebih dekat dengan cara pandang, tujuan, dan idealisme Biru dan kelompoknya. Pembaca menemani Biru berjuang mempertahankan idealisme mereka dengan bergerilya mencari markas, ikut serta dalam aksi-aksi yang bertentangan dengan pemerintah, bersembunyi dari penangkapan serta memahami pertengkaran dan frustrasi yang dialaminya. Sementara melalui Asmara, pembaca dikenalkan dengan alur setelah Mei 1998: duka, kehilangan, ketidaktahuan, ketidakberdayaan, dan harapan. Melalui Asmara, kita dibuat mengerti bahwa mungkin kematian bukanlah hukuman terberat atau pun sebuah akhir.

Laut Bercerita dimulai tepat di pusat cerita dengan Prolog yang yang memperkenalkan nama-nama yang akan segera dikenalkan. Leila menyambut pembaca dengan adegan mencekam saat Laut menghadapi kematiannya, narasi Biru Laut di lembar-lembar awal kisah menyituasikan pembaca dengan kenyataan yang dihadapi Biru Laut. Dengan akhir hidup dari Biru Laut telah dibeberkan di pembukaan, pembaca akan mengikuti kehidupan Biru dari tahun 1991 hingga bertemu kembali dengan hari terakhirnya di pembukaan. Ini tidak membuat karya Leila menjadi anti-klimaks sebab Laut Bercerita sendiri berfokus pada sisi kemanusiaan dan efek yang dilimpahkan setelah kematian Biru.

Laut Bercerita merupakan karya yang berimbang. Dimulai dengan ringan, Leila memberi pembaca porsi yang cukup banyak untuk mengenal cara berpikir Biru dan kelompoknya melalui narasi dan deskripsi keseharian mereka. Meski pada seratus lembar pertama terasa panjang namun dengan mengandalkan alur maju-mundur, Leila membangun rasa kekeluargaan di antara karakter-karakternya dengan dialog serta aktivitas di dalamnya agar setelah selesai membaca, pembaca akan merasa sayang dan rindu akan karakter dan kehidupan yang dulu mereka miliki.

Asmara Jati adalah satu dari tiga karakter perempuan yang berperan besar dalam keputusan-keputusan Biru, ada Anjani sang kekasih serta, si pengambil keputusan dalam gerakan mahasiswa, Kasih Kinanti. Feminisme di dalam Laut Bercerita begitu kental degan Biru yang secara gamblang mengagumi sosok-sosok wanita di sekelilingnya serta dengan diambilnya sudut pandang Asmara dalam babak kedua cerita. Pilihan Leila kepada sosok Asmara yang realistis dan tabah tidak mengeksploitasi kesedihan yang berlebihan menjadi nilai tambah untuk Laut Bercerita.

Selepas ditinggal Biru Laut, Asmara Jati menemukan dirinya menjadi penjaga kewarasan keluarganya. Ayah dan Ibu keduanya enggan menerima kenyataan bahwa Biru tidak akan pulang dan makan bersama di meja makan selayaknya hari-hari Minggu mereka yang dulu. Asmara pada akhirnya merupakan satu-satunya penghubung antara Biru dan mereka yang ditinggalkan, keduanya berkomunikasi secara tak langsung hingga di akhir kisah. Biru Laut di dalam permukaan air berteman ikan berwarna-warni bertanya-tanya telah jadi apa mereka yang ditinggalkannya dan apakah kematiannya bernilai apa pun dan Asmara Jani di atas permukaan laut mempertanyakan keberadaannya bersama mereka yang Biru Laut sayangi.

Laut Bercerita menawarkan dimensi berbeda untuk memahami Peristiwa Mei 1998, agak berseberangan dengan apa yang selama ini masyarakat Indonesia pelajari di buku-buku sejarah dan sistem edukasi. Leila memosisikan Biru bukan sebagai seorang Komunis yang sering dianggap sebagai antek-antek dan dalang kerusuhan, Leila memosisikan Biru sebagai seorang rakyat, pelajar yang dengan caranya, meski bertentangan dengan Pemerintah, menunjukkan rasa cinta dan tanggung jawab dalam bela negara.

 

Aku tak yakin apakah aku akan mengalami Indonesia yang berubah; Indonesia yang berbeda; Indonesia yang kita inginkan bersama.

 – Halaman 221

 

Peristiwa Mei 1998 adalah sebuah konflik dan tragedi yang begitu pelik, yang belum terselesaikan dan meninggalkan luka yang tak terobati dari generasi ke generasi. Leila secara jelas tidak mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masih menghantui keluarga dan kerabat korban namun Leila lewat karyanya memberikan pandangan yang berbeda, yang memanusiakan para korban dan dengan caranya menegaskan bahwa Peristiwa brutal itu terjadi dan para keluarga yang ditinggalkan masih berduka. Mereka yang diculik dan tidak pernah pulang ke rumah dicap sebagai pengkhianat bangsa, nyawa mereka dicabut namun tidak pernah dianggap sebagai manusia yang memiliki haknya, para pemuda yang dulunya mereka: putra dan putri dari orang tua yang tidak berani mengakui kehilangan sebab takut turut dibinasakan, saudara dari mereka yang hanya ada di ingatan, kekasih dari mereka yang kehabisan harapan, warganegara yang berjuang untuk apa yang mereka percayai, dan pelajar yang masih harus diberi kesempatan untuk belajar dan bukan dibunuh.

Secara keseluruhan, Laut Bercerita adalah karya apik yang terinspirasi dari Peristiwa Mei 1998. Dengan sentuhan humor Leila, Laut Bercerita tidak terasa terlalu berat intensitas yang berimbang dari segi sejarah, kemanusiaan, roman, dan nestapa. Terakhir, pembaca dibuat mengerti bahwa dari begitu banyak sisi melihat Peristiwa Mei 1998, Leila memilih sisi yang sering dilupakan oleh Pemerintah: kemanusiaan.

“Matilah engkau mati

Kau akan lahir berkali-kali…”