Gemarnya Orang Indonesia Bersepeda Tahun 2020

Posted on 29 July, 2020

Dirangkum dan ditulis oleh Fachry Slatter – AIYA’s National Blog Editor

Diterjemahkan oleh Lotte Troost – AIYA’s National Content Translator

Versi Bahasa Inggris, klik disini

Berkunjunglah ke toko sepeda apa saja di Jakarta dan Anda akan tahu bahwa sepeda telah habis atau pelayan toko tidak dapat membantu Anda karena sibuk – baik karena menjawab pesanan atau mereka terlalu sibuk mereparasi sepeda. Hal ini terjadi karena orang Indonesia meninggalkan mall dan menjadikan kegiatan bersepeda sebagai hiburan baru.

Dikutip dari The Star News, pada tahun 2020 data yang dikumpulkan oleh Institute for Transportation and Development Policy menyatakan tingkat penggunaan sepeda meningkat menjadi 1000%. Hal ini cukup aneh mengingat pada awal tahun 2019 para jurnalis mengungkapkan kekecewaan mereka setelah melihat tidak banyak perhatian yang diberikan kepada komunitas sepeda dan Jakarta sebagai kota madya bukanlah tempat yang ramah bagi pesepeda dan pejalan kaki. Pichayada Promchertchoo dari Channel News Asia secara eksplisit menyatakan keprihatinannya mengenai hal ini. Namun, pada tahun 2020 perhatian terhadap kegiatan bersepeda meningkat menjadi 180 derajat karena saat ini hampir setiap rumah tangga di Indonesia memiliki sepeda dan menggunakannya secara aktif. Secara bertahap semakin banyak orang mengubah hobi mereka ke bersepeda dan alasannya mungkin sedikit lebih acak.

 Kehadiran sepeda sebelum Indonesia menjadi sebuah negara

Untuk dapat memahami kegemaran bersepeda di Indonesia, kita harus memahami sejarah bersepeda di Indonesia secara singkat dan perannya pada masa sebelum kemerdekaan.

Dalam novel Tetske T. Van der Wal, “I thought you should know”, ia mendokumentasikan kehidupan kakek dan neneknya di Hindia Belanda dan memuji orang Belanda atas gagasan mereka. Ia menjelaskan pengaruh besar orang Belanda yang memperkenalkan penemuan dunia pertama ke Hindia Timur. Seorang insinyur cerdas dari Belanda yaitu Van der Wal memperkenalkan jalan, jembatan, kereta api dan tentu saja sepeda serta velodrom.

(Gambar disamping – “Indisch leger”, sebuah iklan Belanda untuk Angkatan Darat Kerajaan Hindia Belanda atau Angkatan Darat Hindia – tanggal penerbitan tidak diketahui).

Dahulu kala, sepeda di Indonesia digunakan oleh militer Hindia, namun dengan cepat digunakan untuk kegiatan lain sebagai alat transportasi dari titik A ke titik B. Namun, ada yang menangkapnya. Kepemilikan sepeda terbatas karena hanya bangsawan Belanda kaya yang memilikinya. Sepeda adalah barang yang mahal dan bergengsi serta melambangkan kekayaan dan kekuasaan yang hanya bisa dinikmati sebagian kecil pengusaha.

 Maju ke tahun 50-an, orang-orang Belanda keluar dari Indonesia dan meninggalkan teknologi mereka. Oleh karena iklim politik saat itu, Sukarno melarang masuknya produk barat ke Indonesia termasuk sepeda buatan Eropa dan Amerika. Akibatnya terjadi kekosongan dan pasar untuk sepeda lokal dipenuhi oleh orang Tionghoa-Indonesia seperti yang disampaikan oleh situs web “Bike for Dad” dari Universitas Chungkalong, Thailand.

Pada tahun 1938 -1942, Sukarno sering menikmati naik sepeda 

Pada tahun 60an dan 70an, sepeda kehilangan popularitas akibat masukanya sepeda motor dan mobil. Sepeda berhenti menjadi tren dan tidak lagi digunakan sebagai moda transportasi yang nyaman. Sepeda yang dulunya merupakan sebuah penemuan sangat modern tidak lagi dianggap sebagai sebuah tren. Masalahnya, kakek-nenek Van der Wal tidak menyadari betapa besar kegemaran bersepeda 80 tahun kedepan.

Pada tahun 1998, dalam tulisan penelitiannya “The Rising of Middle Class in Indonesia: Opportunity and Change” Syaiful Afif meramalkan kelas konsumsi akan tumbuh menjadi sebesar 85 juta orang pada tahun 2020 dan dia benar. Masyarakat kelas menengah di Indonesia dapat menghabiskan uang lebih banyak dari pada sebelumnya dan hal ini membantu memacu setidaknya satu industri : sepeda.  

Meskipun saat ini hari bebas mobil sudah diberhentikan namun semakin banyak orang mulai bersepeda dibandingkan dengan sebelumnya. Penjelesan untuk fenomena ini tentu saja karena virus corona. Adanya peraturan pembatasan yang akhirnya membatasi jumlah orang yang diperbolehkan di dalam mobil dan menutup pusat perbelanjaan, sejak saat itu banyak orang mulai menemukan ide-ide baru bagaimana mereka dapat mengatasi kebosanan dan menghabiskan uang. Jalanan juga menjadi sepi. Ada juga consensus bahwa kegiatan bersepeda mempunyai manfaat bagi kesehatan. Menjadi sehat dan bugar adalah cara yang baik untuk memerangi virus corona – meskipun penelitian menjelaskan sebaliknya. Menurut data dari IQ Air, tingkat polusi juga telah turun ke level terendah sepanjang masa. Data terbaru menunjukkan bahwa Indeks Kualitas Udara (AQI) rata-rata di Jakarta hanya setinggi 74 (Juli, 2020). Semua faktor tersebut bersatu dan menghasilkan tren bersepeda baru.

Saat ini, bersepeda muncul dan dengan cepat menjadi hobi favorit orang Indonesia.  Tapi alasannya lebih dari masa lampau, bersepeda dilakukan ketika para remaja merasa bosan atau ketika pekerja kantor menganggur di rumah.

Men in Green, foto diambil oleh: Fahry Slatter, 2020.

Sekelompok pesepeda mengenakan seragam hijau, membentuk skuadron.

Apa bedanya dulu dan sekarang? Bersepeda telah berubah menjadi sebuah identitas – bagi individu, bersepeda merupakan salah satu cara untuk merasa mengambil bagian dalam sebuah komunitas dan menumbuhkan rasa memiliki. Seragam yang dipakai oleh beberapa kelompok ketika mereka bersepeda dapat disamakan dengan grup Harley Davidson atau bahkan dengan kelompok yang lebih ekstrem seperti gangster di pesisir brat Amerika dan subkultur punk. Seragam ini melambangkan persahabatan sama seperti sebuah tim olahraga.

Naik sepeda bersama-sama merupakan bentuk perjanjian persahabatan yang tidak tertulis. Ini sama seperti ketika bersepeda pernah dikaitkan dengan status, kekayaan dan kekuasaan selama periode kolonial Belanda. Walaupun saat ini kehadiran sepeda belum tentu memiliki hubungan dengan hal itu, namun lebih menekankan pada sisi kesehatan, kebugaran, persahabatan dan solidaritas yang merupakan nilai-nilai penting bagi orang Indonesia. Media sosial juga membantuk menyebarkan nilai-nilai ini kepada anak muda Indonesia yang selanjutnya menyebar dari satu kelompok ke kelompk yang lain dan akhirnya menciptakan situasi saat ini. Sama seperti setiap orang yang memiliki Harley yang berbeda, setiap orang memiliki sepeda unik yang mungkin saja menceritakan sesuatu tentang orang itu.

Anak nakal yang akan mengecat kota merah, oleh: Fahry Slatter, Juli 2020.

Kehadiran kegiatan bersepeda menjadi semakin kuat karena saat ini kita hidup di masa yang lebih mengutamakan bantuan satu sama lain daripada hidup secara individualistis. Baru-baru ini, tindakan membantu satu sama lain menjadi hal yang sangat penting dan bersepeda menjadi salah satu aktivitas untuk mengekspresikan ide solidaritas tersebut. Bersepeda juga menjadi sebuah aktivitas yang menarik bagi kebanyakan orang daripada hanya dilihat sebagai kegiatan untuk bangsawan kaya. Bagaimanapun, sepeda adalah hal yang tidak pernah dipikirkan oleh kita, namun harus kita ingat bahwa sepeda pernah dianggap sebagai teknologi dunia pertama yang diperkenalkan ke dunia baru. Hal yang pernah kita anggap sebagai moda transportasi primitif, di masa lalu pernah dianggap sebagai prestasi rekayasa yang luar biasa. Saat ini, apakah hype ini akan berhenti atau berlanjut, atau apakah kegiatan bersepeda akan menjadi sisa-sisa sejarah sekali lagi, sebuah tren be;aka yang “menyenangkan pada masanya”, tetapi tidak pernah dianggap dengan serius. 

Bersepeda – bagi komunitas, oleh komunitas. Foto oleh: Sultan, Juli 2020

Penyunting : Meylisa Sahan – AIYA’s National Blog Editor

Meylisa Sahan, Blog Editor
Books are the world to Meylisa. As a communication graduate, Meylisa used her knowledge to branding book reading activities as a fun activity and became a new trend for millennial