Belajar dan Mengajar Bahasa Indonesia di Desa Terpencil

Posted on 3 November, 2020

Versi Bahasa Inggris, klik di sini

Ditulis oleh Sarah Bouquet – AIYA Victoria Committee
Disunting oleh Dinda Ichsani dan Meylisa Sahan – AIYA National’s Blog Editor

Hai teman-teman semuanya, perkenalkan namaku Sarah dan ini pertama kalinya aku menulis konten di blog AIYA. Sebenarnya sudah sejak lama, aku ingin mulai membuat konten di blog ini tapi aku selalu bingung tulisan apa yang harus aku buat. Apalagi, aku juga agak takut karena Bahasa Indonesiaku belum cukup lancar untuk mulai menulis. Tapi ya sudah, mungkin dengan semakin seringnya aku menulis di blog dengan Bahasa Indonesia maka semakin bertambah pula kemampuanku dalam berbahasa Indonesia. Kita lihat nanti, yah. 

Hari ini aku mau membicarakan sebuah topik yang sering sekali aku temui ketika bertemu dengan orang Indonesia, mereka biasanya akan bertanya soal ini.

“Sarah, kok kamu bisa berbahasa Indonesia?” dan setiap hal ini terjadi aku selalu bingung harus menjawab apa karena sebenarnya ada banyak sekali bule yang lancar berbahasa Indonesia, menurutku. Jadi sebenarnya bukan hanya aku. Di Melbourne misalnya, aku kenal beberapa orang yang sudah lumayan fasih berbahasa Indonesia yang sebenarnya bukan bahasa ibu (bahasa asli) mereka. Bahkan mereka juga tidak memiliki keluarga dari Indonesia. Dari yang aku perhatikan, teman-teman yang lancar berbahasa Indonesia ini rajin untuk belajar Bahasa Indonesia setiap minggu bahkan berani mengambil program pertukaran pelajar di Indonesia. Mereka mungkin saja pernah berkuliah selama satu semester di Jakarta atau Yogyakarta, atau mungkin seperti aku yang kecanduan nonton youtuber Indonesia, hehe. 

Tetapi, sepintar-pintarnya belajar sendiri, pasti selalu ada seorang guru di belakang semua “kesuksesan” ini. Pasti selalu ada hal yang perlu kita tanyakan ke guru kita. Lalu, apakah aku bisa berbahasa Indonesia tanpa guru-guru ini yang selama bertahun-tahun membangkitkan niat dan semangatku untuk belajar Bahasa Indonesia? Sepertinya tidak. Intinya, alasan utama kenapa aku bisa berbahasa Indonesia adalah karena aku memiliki guru Bahasa Indonesia yang mau melihat aku sukses dan membagikan ilmunya tanpa pamrih serta menjawab ratusan pertanyaan aku tentang Bahasa Indonesia setiap kelas dimulai. Jadi, aku pikir untuk blog kali ini, aku akan mewawancarai guru-guru Bahasa Indonesiaku selama ini. Aku akan mewawancarai guruku mulai dari zaman sekolah dasar (SD) ketika hal yang kami pelajari adalah hal-hal sederhana seperti warna, nama hari dalam seminggu dan menyanyikan lagu ulang tahun. Aku juga akan mewawancarai guru aku di sekolah menengah pertama (SMP), ketika kami semua lebih tertarik untuk menggosip dengan teman kelas daripada belajar bahasa asing. Aku sangat salut dengan guru SMP, karena kalau aku jadi mereka pasti tidak akan kuat untuk mengajar anak-anak umuran SMP karena pasti susah sekali. Aku juga akan mewawancarai guru yang mengajariku persiapan ujian kelas dua belas. Waktu itu, aku terpaksa belajar bahasa Indonesia dari jarak jauh, soalnya tidak ada cukup murid di sekolahku untuk membentuk kelas Bahasa Indonesia. Aku adalah satu-satunya murid yang belajar Bahasa Indonesia di angkatanku. Akibatnya, aku harus belajar online. Setiap minggu selalu ada tugas yang harus aku selesaikan dan setiap dua minggu akan ada pelajaran melalui telepon bersama guruku. Kantor guru yang bertanggung jawab mengajariku berada sekitar dua jam dari sekolahku, pada saat kelas dimulai aku harus mencari ruangan kelas yang kosong agar telepon kami tidak terganggu dan kami dapat berbicara dengan tenang selama lima belas menit. 

Menurutku, semua guru Bahasa Indonesia itu lumayan unik. Kenapa? Karena mereka semua memilih untuk mengajar Bahasa Indonesia di daerah yang terpencil, misalnya seperti sekolahku yang hanya ada lima ratus siswa dan dari jumlah itu, hanya sekelompok kecil yang mau belajar Bahasa Indonesia. Benar-benar sedikit jika dibandingkan dengan sekolah yang ada di kota. Melihat hal ini, menurutku semangat belajar Bahasa Indonesia harus benar-benar ada dan serius di lingkungan seperti ini. 

Lalu, mengapa mereka tertarik untuk mengajar Bahasa Indonesia ketika jumlah muridnya sangat sedikit? Yah, karena sepengetahuanku tanpa mereka aku tidak akan bisa berbahasa Indonesia sama sekali dan mereka juga adalah salah satu alasan mengapa generasi muda dapat tertarik untuk belajar Bahasa Indonesia bahkan murid yang tinggal di daerah terpencil sekalipun. 

Jadi, tanpa basa-basi lagi, inilah guru-guru bahasa Indonesiaku  yang luar biasa. 

Pak Odgen
        Pak Odgen
Ibu Beasley
                           Ibu Beasley
Pak McGillivray
     Pak McGillivray

Apa hal terbaik menjadi guru bahasa Indonesia? 

Pak Russell Odgen : Saya senang menyaksikan perkembangan para siswa yang semakin sadar tentang budaya Indonesia yang menarik di mata internasional. Mengamati bagaimana mudahnya hubungan terjalin antara pelajar Indonesia dan Australia dan menciptakan hubungan yang hangat di antara mereka.

Ibu Maria : Mampu memperkenalkan Indonesia sebagai negara besar dan penuh keberagaman

Ibu Beasley : Hal terbaik bagi saya ketika menjadi guru bahasa Indonesia adalah melihat senyuman di wajah anak-anak dan rasa bangga mereka setelah berhasil mempelajari dan mengingat suatu pokok bahasan. Saya selalu kagum pada seberapa baik anak-anak “menyerap” bahasa dan bagaimana mereka mempertahankannya meskipun ada liburan dan jeda belajar. Saya juga senang bisa membantu membuka mata anak-anak ke dunia yang mungkin berbeda dari dunia mereka, tetapi saat kita mempelajarinya lebih lanjut, kita melihat kesamaan dengan kehidupan kita sendiri.

Pak McGillivray : Banyak hal! Sangat menyenangkan melihat perkembangan pembelajaran siswa dari kelas 7 hingga kelas 12. Memiliki kesempatan untuk membawa siswa ke luar negeri khususnya ke Indonesia juga selalu menjadi pengalaman yang positif. Saya telah membawa lima grup ke luar negeri hingga saat ini.

Apakah Anda ingat pertama kali/minggu pertama mengajar Bahasa Indonesia? Apa rasanya?

Pak Russell Ogden : Saya adalah seorang guru sains yang kemudian menjadi seorang guru Bahasa Indonesia. Ini adalah harapan saya selama bertahun-tahun untuk mengajar di bidang ini. Pada saat pelajaran pertama waktu itu saya sangat bahagia dan puas saat saya berbagi cerita mengenai foto dan minat saya kepada siswa pertama kalinya. 

Ibu Maria : Bahagia. Tapi kemudian agak kecewa dengan peraturan dan regulasi di sekolah. Misalnya ada kebijakan mengenai kacang yang kemudian membuat saya tidak bisa memasak sate dengan saus kacang untuk murid-murid saya 

Ibu Beasley : Pada pertengahan 1990-an ketika Primary Access to Languages via Satellite (PALS) yang merupakan dari pemerintah untuk mendorong pembelajaran bahasa melalui satelit yang dipasang di atap sekolah, saya kemudian mengajukan diri untuk mengajar bahasa bagi anak-anak kelas lima atau enam di sekolah saya. Saya sedang belajar bersama anak-anak dengan catatan guru di pangkuan saya, dan berusaha terus maju untuk membantu anak-anak, saat kami mendengarkan siaran. Ini sebenarnya bukan langkah terbaik untuk belajar dan mengajar walaupun pemateri tetap melakukan yang terbaik dengan dana yang terbatas. Hal ini kemudian memberikan saya pemahaman bahwa anak-anak harus memiliki seorang guru yang berkualitas dalam Bahasa Indonesia untuk berinteraksi tatap muka dengan mereka jika kita ingin mereka terlibat dan berhasil dalam upaya belajar Bahasa Indonesia. 

Pak McGillivray : Itu sudah lama sekali, di tahun 1996! Saya sebenarnya masih belajar bahasa (baru satu tahun belajar) jadi saya sangat gugup saat itu!

Bagaimana Anda belajar Bahasa Indonesia? Mengapa Anda memilih untuk belajar Bahasa di tingkat menengah/tersier?

Pak Russel Ogden : Pada tahun delapan puluhan, saya menghabiskan enam minggu untuk liburan dan berselancar di Teluk Lagundri di Pulau Nias. Seringkali ketika yang lain sedang berselancar, saya berjalan-jalan di sekitar desa dan mengetahui beberapa kata yang sangat berguna (walaupun banyak penduduk desa yang hanya tahu bahasa daerah mereka). Saya mempelajari Bahasa Indonesia bertahun-tahun sebagai hobi dan akhirnya Departemen Pendidikan menawarkan beasiswa agar para guru mata pelajaran lain bisa kembali belajar dan berlatih Bahasa Indonesia. Ini adalah kesempatan yang luar biasa bagi saya!

Ibu Maria : Setiap orang Indonesia harus belajar bahasa secara formal di sekolah dari tingkat sekolah dasar hingga universitas, setidaknya waktu itu.

Ibu Beasley : Berdasarkan inisiatif dari pemerintah dalam program Skema Pelatihan dan Pelatihan Ulang yang disebut LOTE (Bahasa selain Bahasa Inggris) ini diperuntukan bagi guru kelas yang dapat mengikuti pelatihan untuk menjadi guru dari suatu kelompok bahasa tertentu. Saya selalu merasa tertarik dengan bahasa karena saya punya keturunan Belanda dan juga mempelajari bahasa Perancis sampai dengan SMA. Jadi, dengan senang hati saya mengambil tantangan untuk belajar Bahasa Indonesia (ditambah dengan pengalaman saya di PALS). Saya kemudian mengikuti sesi mingguan di Monash University Gippsland Campus (sekarang Federation University). Setelah mengajar pada waktu itu ada sesi liburan sekolah dan saya menyelesaikan studi saya di Yogyakarta selama enam minggu di jurusan Seni Drama. Waktu itu sangat sulit untuk belajar sambil bekerja penuh waktu. 

Pak McGillivray : Pada tahun 1995 saya ditawari untuk mengikuti kursus untuk menjadi guru Bahasa Indonesia. Pada saat itu ada kekurangan yang cukup besar dalam jumlah guru Bahasa Indonesia. Jadi saya pikir akan lebih baik untuk mempelajari bahasa ini dan ada banyak kesempatan untuk bekerja di situasi ini. 

Menurut Anda, apa cara yang efektif untuk belajar Bahasa Indonesia?

Pak Russell Ogden : Manfaatkan setiap kesempatan untuk belajar. Ciptakan peluang jika memungkinkan. Bersiaplah untuk membuat kesalahan dan berani dalam kesempatan untuk berbicara. Saya banyak mendengarkan podcast dan CD saat sedang mengemudi.

Ibu Beasley : Kursus yang saya ikuti awalnya dimulai dengan panduan yang cermat melalui poin-poin bahasa dan tata bahasa – kami semua adalah pemula. Saya menyukai tahun pertama saya dan merasa antusias untuk melanjutkan banyak kegiatan praktik dan umpan balik positif yang disesuaikan dengan kemampuan kami. Di tahun kedua, para dosen fokus pada pendalaman bahasa dan mendorong kami membaca dan mendengar lebih banyak sebagai cara untuk mengambil poin bahasa dan tata bahasa, di luar yang diajarkan oleh universitas. Saya rasa cukup sulit mencapai keberhasilan ini saat harus bekerja penuh waktu dan memiliki keluarga. Namun, saya menyelesaikan kursus dan memperoleh kualifikasi, tetapi saya merasa ada kesenjangan besar dalam pembelajaran dan pemahaman saya. Pengalaman di dalam negeri sangat bagus sejauh berhubungan dengan orang Indonesia dalam situasi sehari-hari, di luar kelas sangat bagus untuk melatih dan meningkatkan keterampilan percakapan dalam aplikasi kehidupan nyata.

Pak McGillivray : Berjalan-jalan dan berbicara sendiri dalam bahasa Indonesia, menelepon siswa lain dan berbicara dengan mereka dalam bahasa Indonesia, memiliki teman teman bahasa Indonesia, banyak membaca bahasa Indonesia, belajar sedikit namun sering (setiap hari jika memungkinkan).

Kegiatan kelas apa yang benar-benar berhasil untuk Anda terapkan?

Pak Russell Ogden : Membuat terjemahan. Setiap tim memiliki bagian untuk diterjemahkan di sisi lain ruangan. Setiap anggota tim mengambil giliran untuk menyeberangi ruangan dan mengingat sebanyak mungkin bagian yang mereka bisa dan kembali ke tim mereka dan menyampaikan sebanyak mungkin bagian yang mereka ingat. Hanya dengan begitu sumber daya dapat digunakan untuk membantu menerjemahkan bagian itu. Ketika semua tim telah menyelesaikan terjemahannya, mereka akan membacakannya di depan kelas. Untuk terjemahan pertama dan terbaik akan mendapat hadiah.

Ibu Maria : Di Kelas 1 saat mengajarkan tentang bagian tubuh. Saya membentangkan selembar kertas panjang di lantai dan meminta murid terkecil di kelas untuk berbaring di atas kertas sementara tiga siswa lainnya menguraikannya dari kepala sampai kaki (termasuk jari tangan dan semua jari kaki). Setelah itu, setiap orang menuliskan nama bagian tubuh pada gambar tersebut (kepala, bahu, leher, dan lainnya). Kegiatan ini membuat siswa senang sambil belajar kosa kata baru.

Ibu Beasley : Umumnya, apapun yang berbasis permainan, lagu atau kegiatan drama. Anak-anak sekolah dasar menyukai gerakan, menyanyi, dan perlombaan sederhana, dan menurut saya kegiatan ini sangat mendukung pembelajaran bahasa. Misalnya, hanya dengan memulai lagu selama beberapa hari dalam seminggu membuat anak-anak bergabung dan mengingat siapa mereka. Banyak sekali kegiatan ini yang bisa diadaptasi dari bahasa Inggris. Hal lain yang sangat saya nikmati bersama anak-anak adalah ketika saya menilai prestasi di sekolah saya saat ini. Banyak di antara anak-anak yang secara spontan mengarang kalimat atau kalimat sederhana, biasanya lucu, dalam bahasa Indonesia untuk menjawab tentang diri mereka sendiri atau teman-temannya. Sungguh luar biasa melihat upaya mereka dan cara poin tata bahasa dapat diilustrasikan secara sederhana. Sungguh menggembirakan melihat mereka tertawa saat mereka mengerti apa yang dikatakan anak lain dalam bahasa Indonesia.

Pak McGillivray : Membuat siswa saling bertanya dalam bahasa Indonesia sementara seluruh kelas mendengarkan. Juga roleplays yang imersif, membaca dan membuat cerita, serta selalu belajar tata bahasa atau kosakata dalam konteks.

Apakah Anda memiliki kisah sukses favorit mengajar bahasa Indonesia? Apa yang membuat Anda paling bangga terhadap siswa Anda?

Pak Russell Ogden : Kisah sukses favorit saya adalah semangat dan antusiasme para siswa yang telah kembali dari pertukaran dan studi banding ke Indonesia. Saya senang terlibat dalam pengalaman itu baik di sekolah maupun di konteks lain. Saya sangat bangga dengan siswa yang memanfaatkan peluang itu, melewati tantangan dan menganggapnya sebagai peristiwa yang mengubah hidup.

Ibu Maria : Ketika siswa saya mengingat apa yang saya ajarkan kepada mereka dan memperluas keterampilan bahasa mereka lebih jauh untuk memenuhi pembelajaran mandiri dan kegemarannya. 

Ibu Beasley : Partisipasi dalam Program Membangun Hubungan dan Dialog Antar Budaya melalui Proyek Keterlibatan yang Bertumbuh (BRIDGE) melalui Asia Education Foundation. Setelah pengajuan berhasil, Sekolah Dasar Leongatha bermitra dengan Sekolah Pondok Labu 11 di Jakarta dari tahun 2010 hingga akhir tahun 2014. Rekan saya adalah Bu Tias yang sekarang berteman dengan saya sampai saat ini. Dia memiliki kehangatan dan kemampuan mengajar yang alami pada saat bekerja dengan anak-anak dan mereka mencintainya. Bersama-sama kami bekerja untuk menyatukan anak-anak sekolah kami melalui surat, panggilan Skype, Edmodo, mengerjakan tema yang serupa dan homestay dengan Bu Tias membawa sekelompok anak ke Australia. Kami selalu menekankan kesamaan dan menganggap perbedaan itu menarik. Itu adalah pengalaman yang luar biasa bagi saya secara pribadi dan anak-anak di kedua sekolah. Saya juga beruntung bisa berhasil melamar posisi Asisten Bahasa Indonesia. Pada 2012, Bu Jeani bergabung dengan saya di kelas. Dia adalah aset penting bagi pembelajaran bahasa dan pemahaman budaya anak-anak dan saya sendiri. Dengan memiliki seseorang dari negara itu untuk mengajar dan menjelaskan saat diperlukan adalah manfaat yang sangat besar. Kehangatan dan sikapnya membuat dia disayangi oleh kami semua.

Pak McGillivray : Ya tentu saja. Kisah sukses favorit saya adalah ketika siswa saya menjadi lebih baik dari saya dalam menulis, berbicara, mendengarkan dalam bahasa Indonesia. Itu hanya terjadi tiga kali dalam karir saya. Salah satunya adalah Sarah Bouquet yang mewawancarai saya saat ini. 

Mengapa belajar bahasa Indonesia relevan di tahun 2020?

Pak Russell Ogden : Yang terpenting, seperti yang selalu terjadi, kesadaran budaya yang diperluas dan pengembangan pribadi yang diperoleh dari mempelajari bahasa. Terutama tetangga negara kita. Tentu ada semua pertimbangan ekonomi dan politik itu, tapi bagi saya yang utama adalah pengembangan pribadi!

Ibu Maria : Dengan COVID-19, bekerja sama berdampingan untuk melindungi perbatasan kita adalah penting. Sebentar lagi, kami mungkin diminta untuk bekerja sama dalam menemukan obat untuk pandemi ini. Ketimbang mengandalkan bahasa Inggris, menguasai bahasa Indonesia dalam berkomunikasi akan menjadi nilai tambah untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

Ibu Beasley : Kami adalah bagian dari desa global. Indonesia adalah tetangga Asia terdekat kita. Kami memiliki hubungan perdagangan yang kuat dengan Indonesia dan Indonesia merupakan tujuan liburan yang populer bagi banyak orang Australia sehingga kami harus tahu lebih banyak tentang negaranya, penduduknya, bahasa dan budayanya. Kita harus terlibat dalam tingkat orang-ke-orang dengan Indonesia untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman kita. Kami membutuhkan anak-anak untuk melihat bahwa mungkin ada beberapa perbedaan yang menarik tetapi ada banyak kesamaan yang kami miliki. Belajar bahasa memperluas pikiran dan pandangan kita tentang dunia. Ini memperkuat keterampilan pemecahan masalah saat kita berkomunikasi untuk pemahaman. Bahasa Indonesia, dengan alfabet yang sama dengan bahasa Inggris dan struktur fonetiknya, memungkinkan anak-anak untuk mengalami kesuksesan, terutama pada tahap-tahap awal yang penting dalam belajar bahasa – mereka dapat mengatakan apa yang mereka lihat. Semoga hal ini dapat memacu mereka untuk melanjutkan belajar Bahasa Indonesia.

Pak McGillivray : Pembelajaran bahasa selalu relevan. Pembelajaran Bahasa Indonesia relevan di tahun 2020 karena mereka adalah tetangga kita dan bersama-sama kita sedang melalui masa-masa yang sangat menantang. Penting untuk mempelajari apa yang seluruh dunia hadapi saat-saat ini.