Apresiasi atas Jiwa dan Raga

Posted on 3 December, 2020
Sumber : Pinterest

Ditulis oleh Viona Alifhah – Juara Dua Lomba Essay “Who is Your Hero” AIYA Jakarta
Penyunting : Meylisa Sahan & Dinda Ichsani – AIYA’s National Blog Editor

Versi Bahasa Inggris akan segara di upload

Identik dengan perjuangan yang tidak mengenal kata putus asa, semangat nasionalisme yang dijunjung tinggi, kemerdekaan dan persatuan Indonesia sebagai tujuan hidupnya mereka inilah yang dikenal sebagai pahlawan. Akan tetap seiring berkembangnya kemajuan teknologi dan kehidupan manusia, penjajahan dan kolonialisme bukan lagi hal yang harus diperjuangkan oleh para pahlawan. Perjuangan pahlawan saat ini lebih menantang dan bisa dikatakan mampu menghanyutkan jiwa dan raga karena yang dilawan bukanlah para penjajah dari Eropa tetapi waktu dan diri sendiri. Hal ini tidak terbatas pada ruang dan jiwa, siapapun dapat hanyut ditelannya. 

Tetapi untuk sampai di titik ini ada sosok yang membantu saya untuk mampu melawan waktu bahkan manusia. Sosok ini membantu saya untuk berjuang, bukan untuk mengusir penjajah tetapi untuk mempertahankan kemerdekaan dan mempersiapkan masa depan saya sendiri. Ini mungkin terdengar klise dan anarkis tapi anggaplah ini sebagai bagian dari bentuk apresiasi saya dan mungkin siapapun juga yang membaca tulisan ini. Saya bukannya tidak bersyukur atas nikmat kemerdekaan yang didapatkan tanpa kesulitan ini, saya juga bukannya tidak menghargai pahlawan yang gugur, bukan tidak menghormati mereka yang berperang. Bagi saya mereka tetap lah pahlawan yang akan selalu saya hargai dan hormati. Saya tentu saja akan selalu berterima kasih atas waktu dan kesediaan mereka untuk merebut tanah jajahan.  

Perjuangan saya mungkin tidak lebih berat dibandingkan dengan pahlawan pengharum nama bangsa tapi bagi saya hidup yang penuh dengan lika liku dan kegagalan ini membuat saya sadar bahwa tidak semua orang mampu menghadapi apa yang saya jalani, bertahan saat ditimpa kegagalan dan sempat merasa ingin berhenti melanjutkan perjuangan ini, merasa putus asa karena tak kunjung sampai tujuan. Niat hati ingin beristirahat, namun lama kelamaan kerja keras dan perjuangan semakin terasa lambat. Keinginan dan kemauan untuk bangkit hilang sudah. Tekad kuat yang sudah  dipupuk dengan baik lenyap ditelan waktu begitu saja. Hanya karena seutas afirmasi negatif yang secara  otomatis mengalun bagai lagu di hati dan pikiran, sedihnya kata – kata tersebut keluar  dari mulut saya sendiri, terdengar bodoh bukan? 

Tetapi beranjak dewasa saya belajar bahwa pikiran dan hati yang paling bisa menang di atas kenyataan, terlebih saat fisik sedang melemah. Saat itulah keyakinan tentang gagal akan menghampiri, seolah-olah tahu persis akan berlabuh pada orang yang tepat. 

Satu atau dua hari adalah waktu yang cukup untuk bersemayam dalam pikiran seseorang dan meruntuhkan semua harapan. Setelah kesengsaraan yang sekiranya dikata orang bukan apa-apa, saya memutuskan untuk bangkit. Saya ingat bahwa investasi dan ekspektasi orang tua ada di tangan ini, walaupun bukanlah sebuah keharusan untuk menjadi anak kebangaan. Tapi bagi saya ini adalah apresiasi yang bisa saya berikan untuk membuktikan bahwa kerja keras orang tua saya tidak sia-sia. 

Pada saat itu jiwa dan raga serta asa kembali terpupuk, semangat kembali menyertai. Semua terjadi secara perlahan, ada proses sembuh dan bangkit yang saya jalani, saya harus sabar untuk memulai semuanya dari awal lagi, meneruskan langkah kaki yang katanya calon pemimpin. Kaki ini tanpa pernah letih kembali berusaha untuk melangkah, otak ini bekerja tanpa pernah tidur, jantung berdetak tanpa sedikit pun beristirahat lalu tanpa disadari kita menjadi jarang memperhatikan diri. Padahal jiwa dan raga adalah hal yang selalu ada dan bersama kita sejak saat pertama kali semua kita dilahirkan ke dunia. 

Tidak selamanya semua orang terdekat dapat diandalkan bahkan orang tua sekalipun karena yang hidup akan mati dan yang mati akan diam. Satu-satunya harapan yang bisa menjadi penolong adalah diri kita sendiri. Inilah alasannya mengapa saya menunjuk diri sendiri sebagai pahlawan untuk diri saya. Inilah alasan kenapa kalian, para pembaca juga harus mulai untuk memberikan apresiasi atas dirimu sendiri. Tidak perlu menuliskan cerita luar biasa dan menunjukkannya kepada dunia cukuplah dengan memulai mencintai kekurangan dan kegagalan. 

Anggap pijakan – pijakan rapuh itu sebagai pengingat bahwa tubuh kita membutuhkan istirahat dan waktu yang cukup untuk kembali bekerja dengan baik seperti semula. Walaupun, tak jarang pijakan yang dipilih ini tidak hanya rapuh melainkan membuatmu jatuh. Namun selalu ingat bahwa tumbuh dan berkembang tidak hanya dengan menjadi lurus.