Buaya Darat di AIYA Kongres 2021

Posted on 10 February, 2021

Sumber : Pinterest

Versi Bahasa Inggris, klik di sini

Ditulis oleh Meylisa Sahan – AIYA National’s Blog Editor 

Kongres tahunan Australia – Indonesia Youth Association (AIYA) telah digelar secara daring pada tanggal 30 – 31 Januari 2021. Acara ini mempertemukan seluruh anggota AIYA dari Australia maupun Indonesia. Ada banyak hal yang dibahas dalam pertemuan ini termasuk beberapa istilah kata dalam dua bahasa yang dikemas oleh panitia kongres dalam permainan yang disebut AIYA Trivia Night. Semua peserta kongres akan dibagi dalam beberapa tim untuk menjawab pertanyaan yang sudah disediakan.

Ada satu pertanyaan yang cukup menggelitik ketika permainan AIYA Trivia dimulai yaitu istilah “buaya darat”. Istilah ini mungkin sangat akrab dengan telinga peserta dari Indonesia, namun beberapa peserta kongres dari Australia belum mengetahui arti dari kata ini. Oleh karena itu Tim Blog Editor AIYA National berhasil merangkum berbagai penjelasan mengenai buaya darat mulai dari sejarah, konteksnya dalam kehidupan sehari-hari dan apakah sebenarnya buaya darat adalah simbol yang cocok untuk menggambarkan kadar setia seseorang? Let’s check it out!

“Sumpah? Lu jangan percaya deh sama omongannya. Dia tuh buaya darat”

Kata buaya darat selalu dikaitkan dengan kesetiaan seseorang khususnya laki-laki. Pria yang dicap buaya darat adalah mereka yang dianggap suka mengumbar kata manis dan kata cinta tapi suka pula ingkar janji. Sampai saat ini belum ada penjelasan yang pasti mengenai asal usul istilah buaya darat digunakan dalam konteks komunikasi orang Indonesia, atau sederhananya sebagai sebuah perumpamaan. Istilah buaya sebagai ungkapan untuk menjelaskan sebuah hal yang palsu, bohong atau fiktif ternyata sudah ada sejak abad ke-14 dalam sebuah buku yang berjudul The Voyage and Travel karya Sir John Madeville. Buaya dalam buku ini dideskripsikan sebagai seekor binatang yang menyerupai ular berbadan panjang yang suka berendam air pada malam hari dan bersembunyi di gua pada siang hari. Buaya juga dikisahkan suka membunuh manusia dan memakannya sambil menangis. Dari sinilah muncul istilah air mata buaya yang artinya air mata palsu. Beredar pula dongeng tentang buaya yang suka menipu atau pura-pura menangis. Hal ini akhirnya dikaitkan dengan istilah lelaki buaya darat yang suka menipu wanita dengan air mata palsu.

Samsudin Adlawi dari Majalah Tempo dalam tulisannya berjudul Binatang yang Memperkaya Bahasa menjelaskan istilah buaya darat muncul sejak tahun 1971. Sejarah ini berawal dari Soronganyit di sekitar Jember, Jawa Timur, Indonesia. Singkat kisah di Soronganyit terdapat sebuah tambak buaya yang jadwalnya sangat ketat sehingga kawanan buaya ini akan diatur kapan harus di darat dan kapan harus berada di dalam air. Suatu hari, seekor buaya jantan menghilang dan membuat warga sekitar gempar karena takut buaya tersebut kabur. Tiga bulan berselang, buaya jantan yang hilang tadi ditemukan bersama buaya betina yang ternyata bukan pasangan sahnya. Sang buaya betina ini ternyata seumuran anak buaya jantan itu sendiri. Warga pun serempak mengumpat “Dasar Buaya!”. Sejak saat itulah, ketika seorang laki-laki memiliki hubungan gelap dengan perempuan yang bukan pasangan sahnya ia akan dikatain “buaya darat”.

Sejalan dengan itu, istilah buaya darat akhirnya mulai digunakan secara luas sebagai julukan untuk laki-laki yang teridentifikasi atau terbukti suka merayu perempuan (gombal), mudah mengungkapkan cinta kepada banyak wanita, tidak serius menjalin hubungan dan suka mendekati banyak wanita bukan untuk sebuah hubungan yang serius. Istilah internasionalnya adalah playboy! 

Terlepas dari konotasi buruk, nyatanya dalam beberapa sejarah dan kebudayaan Indonesia hewan buaya memiliki arti yang penting. Buaya muncul sebagai simbol dalam makanan, patung hingga filosofi kehidupan suatu suku tertentu yang berada di Indonesia. Bagi orang Betawi di Jakarta, simbol buaya hadir sebagai salah satu tanda penting dalam proses pernikahan dengan adat Betawi. Buaya dalam bentuk makanan disebut roti buaya yang diberikan sebagai seserahan dari pengantin pria kepada pengantin wanita. Pusat Kajian Budaya Betawi menjelaskan Roti Buaya merupakan adat Betawi yang wajib dipakai saat pernikahan. Simbol dari roti buaya ini dimaknai dengan kesetiaan karena buaya merupakan hewan yang setia. Pembuatan roti buaya ini dengan cara dipanggang. Roti buaya dahulu teksturnya keras dan tidak ada rasanya tetapi sekarang berbeda karena teksturnya lembut dan beragam rasa. Dahulu roti buaya itu keras karena filosofinya semakin keras rotinya justru semakin baik. Setelah dijadikan seserahan, roti buaya tidak dimakan tetapi disimpan dalam waktu yang lama. Hal itu merupakan simbol kesetiaan pasangan suami dan istri.

Sementara itu, buaya juga menjadi lambang bagi suku Dayak Lundayah yang terkenal sebagai suku pemberani. Merujuk pada kehidupannya di masa lalu, suku Dayak Lundayah menjadikan buaya sebagai simbol diri mereka. Tim Tapal Batas detik.com dalam tulisannya berjudul Suku Dayak Lundayah dan Filosofi Buaya menjelaskan bahwa ada beberapa alasan buaya kemudian digunakan sebagai simbol Lundayah yaitu buaya adalah hewan yang pemberani dan sigap, buaya merupakan hewan yang hidup di dua alam yang mencerminkan masyarakat daerah ini yang mampu beradaptasi dan bertahan dimana saja, setia dan memiliki sifat yang tenang. Patung-patung buaya dapat ditemukan di kawasan daerah Dayak Lundayah.

Sementara itu buaya juga erat hubungannya dengan kota Surabaya. Nama Surabaya, sesuai dengan etimologinya berasal dari kata Sura atau Suro dan Baya atau Boyo dalam bahasa Jawa. Suro adalah jenis ikan hiu, sedangkan boyo adalah istilah bahasa jawa untuk buaya. Menurut mitos, dua hewan ini adalah binatang paling kuat yang juga menjadi simbol kota Surabaya sampai saat ini. 

Lalu apakah buaya adalah binatang yang tidak setia? Ternyata tidak. Beberapa penelitian menetapkan buaya sebagai salah satu binatang yang paling setia. Seperti yang dilansir dari Livescience.com, penelitian selama 10 tahun yang dilakukan oleh Savannah River Ecology Laboratory, membuktikan bahwa 70 persen buaya selalu memilih pasangan yang sama setiap kali musim kawin tiba. Sementara mereka punya banyak kesempatan untuk memilih pasangan baru. Ada banyak buaya yang ditemukan pertama kali kawin dengan pasangannya pada tahun 1997 dan masih berpasangan sampai tahun 2005. Terlepas dari itu, konteks buaya darat sebagai kiasan atau perumpamaan merupakan salah satu bentuk dari bagaimana manusia berkomunikasi dan bertukar simbol. Kata dan arti buaya darat tentu saja bisa bergeser jika dikaitkan dengan konteks budaya dimana kata itu ditemukan.

Nah, itu tadi pembahasan dari tim Blog Team AIYA National tentang buaya darat, sejarah, konteks dan simbol buaya di berbagai suku dan daerah di Indonesia. Semoga informasi kali ini bermanfaat untuk kalian. Semoga kita semua terbebaskan dari jeratan buaya darat yah haha serem!