Festival Sinema Australia Indonesia 2017: Kompetisi Film Pendek

Posted on 2 February, 2017

Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2017 diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Australia di Jakarta. FSAI merayakan industri film Indonesia dan Australia, dan berbagi kebudayaan lewat seni tersebut. Tahun ini, untuk pertama kali, FSAI 2017 mengadakan Kompetisi Film Pendek untuk mendukung industri film Indonesia, dengan menyediakan wadah untuk sineas muda Indonesia untuk menunjukkan karya-karyanya.

Dari hampir 300 film yang diajukan, enam finalis dipilih bersaing untuk kesempatan memenangkan perjalanan ke Melbourne International Film Festival (MIFF) 2017. Enam film finalis diputar di seluruh Festival, dan pemenang Best Short Film dan People’s Choice diumumkan di Awarding Ceremony pada hari Minggu 29 Januari 2017 lalu. AIYA mewawancarai pemenang Best Short Film Mahesa Desaga tentang film pendeknya Nunggu Teka.

Foto: Mahesa Desanga

Tolong menggambarkan film pendek Anda, Nungga Teka.

Nunggu Teka bercerita tentang seorang Ibu yang menunggu kepulangan anaknya yang merantau, di hari Lebaran. Si Ibu menyiapkan segalanya yang terbaik untuk menyambut kedatangan si anak.

Cerita ini berangkat dari pemikiran saya, tentang bagaimana perasaan seorang ibu ketika merindukan kepulangan seorang anak. Menurut pengalaman saya, seorang Ibu terkadang tidak perlu menginginkan kata cinta setiap hari dari seorang anak. Seorang Ibu cukup mendengar kabar dari si anak, hal tersebut sudah sangat cukup menentramkan hari seorang Ibu.

Dari hal tersebut, saya mengajak penonton yang menonton film ini, untuk menggali kembali moment dengan ibu masing-masing. Karena saya yakin semua orang pasti punya cerita sendiri-sendiri dengan Ibu. Kehadiran film ini saya tujukan untuk mengajak seluruh penonton mengorek lagi hubungan mereka dengan Ibu. Di film Nunggu Teka, saya sengaja untuk tidak tendensius menciptakan drama yang besar. Saya ingin memainkan letupan-letupan kecil yang untuk diisi oleh memori-memori dari penonton masing-masing.

Poster: Mahesa Desanga

Sudah berapa lama Anda membuat film pendek? Bagi Anda, aspek apa saja yang paling memuaskan dengan seni ini?

Saya mulai memproduksi film sejak 2008, ketika itu saya tergabung kedalam komunitas film di kampus saya, kampus Universitas Brawijaya. Awalnya saya hanya menyukai menonton film, sama sekali tidak terpikir untuk bisa memproduksi film, tapi program kerja dari komunitas tersebut mendaulat saya menjadi sutradara di produksi filmnya. Dari situ saya mulai tertarik untuk menyutradarai film.

Kenapa sutradara? Karena saya merasa saya tidak pintar di department produksi manapun. Saya hanya memahami secara filosofis tentang frame gambar, atau editing film, tapi tidak untuk urusan teknis. Saya hanya bisa bercerita, dan bercerita itu adalah tugas dan fungsi dari sutradara. Maka bila seorang Mahesa Desaga ingin hidup di dunia film, maka dia hanya bisa menjadi sutradara (san sesekali penulis skenario).

Bagi saya film adalah medium yang paling lengkap untuk menceritakan sebuah kehidupan manusia, dan bahkan melalui film kita menciptakannya. Hal yang paling penting bagi saya dalam memproduksi sebuah film adalah karya kita menciptakan impresi bagi penonton. Penonton membicarakan film kita, penonton teringat pengalaman masa lalunya, penonton tergerak melakukan sesuatu setelah menonton film kita, hal-hal tersebutlah yang menurut saya menjadi sebuah kepuasan sebagai seorang pembuat film. Dan film memang media paling lengkap untuk itu. Kita bisa mengajak penonton melalui suara maupun gambar.

Gambar: Mahesa Desanga

Sebagai pemenang FSIA, pada bulan Agustus ini Anda akan ke Australia untuk Melbourne International Film Festival. Apa harapan Anda untuk perjalanan itu?

Kesempatan mengunjungi Melbourne International Film Festival, bagi saya menjadi sebuah arena belajar penelitian tentang seperti apa sinema Australia, secara langsung. Sejauh apa keterkaitan film dengan masyarakat Australia. Seperti apa trend dan perkembangan film yang diproduksi oleh sineas-sineas Australia. Dan yang menarik tentu saja melihat bagaimana para pembuat film di Australia, mengeksplorasi bentuk-bentuk film untuk menyampaikan cerita mereka. Itu semua bisa secara lebih dekat saya lihat dan rasakan.

Gambar: Mahesa Desanga

Bagaimana perasaan Anda tentang industri film di Indonesia saat ini? Apa harapan Anda untuk industri ini, dan untuk peran Anda di dalamnya?

Industri film Indonesia saat ini sedang membangun, menurut saya. Masih banyak hal yang perlu disiapkan. Sejauh ini industri film Indonesia timpang kearah produksi saja, padahal hal ini tidaklah ideal dari sudut pandang dinamika industri. Harus bergerak juga bidang Distribusi, Eksebisi, Apresiasi, dan Kritik. Sudah ada beberapa pihak yang memulai untuk melengkapi bidang-bidang tersebut. Sejauh ini tetap harus didukung.

Serta menurut saya, pembuat film Indonesia harus rajin lagi membaca budaya mereka. Karena sumber cerita yang kuat itu lahir dari budaya yang lekat dengan keseharian. Dan bisa dibilang sebenarnya, pembuat film Indonesia tidak perlu takut untuk kehabisan stok ide, selama mereka mendekat ke budaya mereka.

Gambar: Mahesa Desanga

Menurut Anda, acara kayak gini, FSIA, adalah kegiatan yang efektif dan bermanfaat untuk penguatan hubungan Indonesia dan Australia?

Tentu saja ajang seperti FSAI ini menjadi penting. Pertama, penting untuk membuka wawasan penonton mengenai film Australia, bahwa film tidak melulu buatan Amerika Serikat dengan Hollywoodnya. Bahwa ada film produksi Australia yang sangat humanis. Ini jelas menjadi ajang pengenalan sosial-kultural Australia kepada masyarakat Indonesia.

Kedua, dengan terbukanya kompetisi film pendek di FSAI ini juga menjadi sangat perlu. Karena perkembangan film pendek Indonesia sangatlah kuat. Sesi ini malah bisa jadi lebih kuat dalam menggambarkan sosial-kultur Indonesia ke publik. Karena ketika kita berbicara wajah Indonesia maka kita wajib menonton film-film pendeknya. Jadi dengan dibukanya kesempatan kepada film-film pendek untuk diputar, menunjukan FSAI sangat concern untuk menjadi salah satu jalan diplomasi yang efektif.

Seperti dengan film saya, Nunggu Teka misalnya, isu hubungan Ibu-anak adalah isu universal, tapi melalui film ini bisa ditunjukan hal spesifik tentang situasi di Indonesia dalam perayaan Hari Raya. Hal tersebut bisa menjadi poin pengenalan kebudayaan Indonesia ke luar.

Kami dapat belajar informasi lebih lanjut tentang film-film Anda di mana?

Untuk informasi tentang karya saya, bisa mengunjungi akun social media saya, dan sangat terbuka untuk diskusi maupun tanya jawab.

Facebook: Mahesa Desaga; Instagram: @mahesadesaga; Twitter: @mahesadesaga.

Untuk informasi lebih lanjut tentang FSAI, cek website.