Liteasi Keuangan di Kalangan Pemuda Australia dan Indonesia

Posted on 5 August, 2020

Dirangkum dan ditulis oleh Dinda Amalia Ichsani – AIYA National’s Blog Editor

Versi Bahasa Inggris klik disini

World Economic Forum pada tahun 2015 menyatakan literasi keuangan merupakan salah satu komponen literasi dasar yang juga menjadi fokus bagi lembaga pengawas keuangan Australia dan Indonesia. 

Literasi keuangan merupakan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terkait lembaga, produk dan jasa keuangan yang mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan. Memiliki pengetahuan tentang keuangan menjadi penting bagi kaum muda khususnya Indonesia dan Australia karena meningkatnya literasi keuangan akan berdampak baik pada kondisi keuangan seseorang bahkan dalam skala lebih besar dapat mempengaruhi perekonomian negara. 

Secara umum, Australia dan Indonesia sama-sama melakukan berbagai cara untuk mengedukasi pemuda dalam hal keuangan. Australia misalnya, negara ini menyediakan banyak sumber edukasi keuangan yang dapat diakses secara gratis oleh masyarakatnya. Sementara itu di Indonesia terdapat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berkembang pesat dan melakukan berbagai macam edukasi terkait pentingnya menabung dan investasi pada berbagai jenis produk keuangan. 

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh HILDA pada tahun 2019 menjelaskan bahwa tingkat literasi keuangan penduduk Australia sebesar 64% dan didominasi oleh kelompok usia 18-24 tahun dengan total persentase 34%. Sementara itu di Indonesia tingkat literasi mengenai keuangan sebesar 38.03% yang juga didominasi oleh kelompok usia 18-25 tahun sebesar 32,1%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan pemuda Australia lebih tinggi dibandingkan dengan pemuda Indonesia. 

Guna menumbuhkan literasi keuangan kepada masyarakat pada umumnya terdapat berbagai strategi yang diterapkan kedua negara ini. Di Indonesia, strategi ini dikenal dengan Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI). Tiga poin utama dalam strategi ini adalah meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terkait keuangan, mendorong masyarakat memiliki tujuan serta perencanaan keuangan secara bijak serta memperluas dan mempermudah akses keuangan. Australia menyebut strategi keuangannya dengan nama National Financial Capability Strategy yang berfokus pada edukasi, informasi dan memberikan dukungan dengan membangun kebiasaan uang yang baik, berbicara dan belajar lebih banyak tentang uang dan memperbaiki situasi keuangan. 

Enterpreneurship Babson

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi juga menjadikan trend literasi keuangan semakin meningkat baik di Indonesia dan Australia. Berbagai inovasi di bidang FinTech menghadirkan maraknya penggunaan aplikasi berbasis dompet elektronik dan mobile banking seperti OVO, Go-Pay, DANA, Jenius, Mandiri Online, PayPal, Alipay yang juga dianggap sebagai perkembangan cashless society yang mempermudah transaksinya. 

Sayangnya, kehadiran perkembangan teknologi khususnya dalam bidang keuangan ini belum berbanding lurus dengan jumlah penggunanya. Masih banyak penduduk Indonesia yang belum memiliki akses penggunaan dompet elektronik. Hal ini berbanding terbalik dengan yang terjadi di Australia dimana pembayaran online sudah menjadi hal yang sangat umum. 

Meningkatnya pengetahuan tentang produk keuangan juga akan mempengaruhi keikutsertaan masyarakat pada investasi yang tidak hanya terpaku pada emas dan properti namun pada sektor pasar modal seperti saham, reksa dana, obligasi dan lain sebagainya. Tersedianya berbagai instrumen investasi merupakan peluang yang luas bagi masyarakat untuk dapat mencapai kebebasan finansial di masa mendatang. Dengan berinvestasi, masyarakat juga terlibat pada pembangunan ekonomi baik secara langsung maupun tidak langsung. 

Menjadi sandwich generation membuat sulit bagi pemuda Indonesia untuk menetapkan kemandirian keuangan, terlebih saat harus menanggung beban keuangan orang tua dan anak mereka. Kondisi ini tidak akan mudah dihadapi, namun dengan perencanaan keuangan ke depan maka jalan yang bergelombang ini akan menjadi sedikit lebih mulus. Beberapa cara yang dapat dilakukan oleh generasi ini adalah dengan mulai menabung untuk biaya sekolah anak sesegera mungkin, mengontrol hutang, menetapkan tujuan keuangan dan meninjaunya secara teratur, mempersiapkan masa pensiun dengan berinvestasi, membicarakan perencanaan keuangan dengan orang tua, dan mengedukasi anak tentang pentingnya mengelola uang.

Literasi keuangan merupakan hal penting yang perlu dipahami oleh semua orang tidak terkecuali pemuda Australia dan Indonesia sehingga dapat mengambil langkah yang tepat dalam urusan pengelolaan keuangan saat ini dan masa depan. Pemuda memiliki potensi besar sebagai penggerak perekonomian baik dari segi jumlah populasi, karakter, kinerja serta akses terhadap teknologi. 

Resources 

National Financial Capability Strategy 2018 

ASIC to set up expert group for youth financial literacy  

OJK Dorong Literasi dan Inklusi Keuangan Anak Muda 

Financial Literacy in Australia Insights from HILDA Data 

Penyunting : Meylisa Sahan – AIYA’s National Blog Editor