Berbagi Pengalaman Mendapatkan Beasiswa LPDP (Bagian 2)

Posted on 13 April, 2016

Albert Christian Soewongsono adalah Penerima Beasiswa Afirmasi LPDP Periode I Tahun 2016, dan Alumni FST Matematika Universitas Nusa Cendana Tahun 2015. Tulisan yang berikut ini adalah bagian kedua dari pembagian pengalamannya menerima beasiswa LPDP itu. Baca bagian pertama di sini.

Seleksi Substansi

Pada 2 Februari 2016, saya mendapatkan pengumuman bahwa saya lulus seleksi administrasi dan akan mengikuti seleksi substansi yang terdiri dari On the Spot Essay Writing (Menulis Esai di Tempat), Leaderless Group Discussion (LGD atau Diskusi Kelompok Mandiri) dan Wawancara.

Nah teman-teman, menurut saya ini adalah tahapan paling krusial dalam mendapatkan beasiswa LPDP. Alasannya karena tes yang dilaksanakan cukup banyak dan terdengar asing bagi kebanyakan kita. Alasan lainnya adalah khusus untuk pendaftar program Magister/Doktoral Luar Negeri periode tahun 2016, seleksi dilaksanakan dengan menggunakan Bahasa Inggris. Hal tersebut tentu menambah tingkat kesulitan tes itu sendiri. Oleh karena itu, sambil menunggu undangan mengikuti seleksi selanjutnya, saya menggali informasi lebih jauh mengenai prosedur ataupun mekanisme tes dalam seleksi substansi melalui artikel dalam blog dan juga melalui alumni/awardee sebelumnya serta memperbanyak membaca isu-isu yang sedang terjadi di Indonesia melalui media online maupun cetak, yang akan sangat bermanfaat pada waktu mengikuti tes menulis esai di tempat dan LGD.

Setelah menunggu sekiranya dua minggu, saya mendapatkan undangan untuk mengikuti seleksi substansi bersama 23 peserta lainnya bertempat di Gedung Keuangan Negara Kupang. Saya mendapatkan jadwal tes selama dua hari yakni tanggal 1 Maret 2016 untuk tes Menulis Esai di Tempat dan LGD, dan seleksi wawancara pada keesokan harinya. Tips dari saya, sebaiknya teman-teman datang 30 sampai dengan 60 menit sebelum tes dilaksanakan sebab waktu tersebut dapat digunakan untuk saling berkenalan dengan peserta lainnya maupun peserta dalam satu kelompok LGD yang telah dibagi sebelumnya dalam undangan yang diberikan, dan juga untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tes; ataupun, kemungkinan terburuk, jika ada sesuatu yang dilupakan di rumah seperti kartu peserta tes maka masih tersedia cukup waktu untuk mengambilnya.

Albert di Universitas Charles Darwin tahun 2014. Foto: Albert Christian Soewongsono.
Albert di Universitas Charles Darwin tahun 2014. Foto: Albert Christian Soewongsono.

On-the-Spot Essay Writing

Tes pertama yang diikuti oleh para peserta adalah tes menulis esai di tempat. Pada tes ini pihak LPDP akan memberikan dua buah topik tentang isu-isu terkini yang sedang terjadi di Indonesia. Peserta diberikan waktu 30 menit untuk menulis esai yang berisi latar belakang masalah, penyebab terjadinya masalah, sudut pandang penulis terhadap isu tersebut dan solusi/rekomendasi yang dapat diberikan.

Saya mendapatkan dua pilihan topik yakni topik mengenai politik dan pendidikan. Saya memilih yang kedua tentang tren pendidikan saat ini yang lebih berorientasi pada besarnya prestasi yang diperoleh. Alasan saya memilih topik yang kedua, selain lebih mudah untuk dikembangkan maupun dibahasakan (ingat untuk yang tujuan Luar Negeri, wajib menulis dalam Bahasa Inggris) juga karena saya mempunyai lebih banyak referensi (data maupun contoh) untuk mendukung argumen saya. Nah, dalam menulis esai, tidak ada batasan cakupan masalah yang diberikan oleh LPDP, oleh karena itu teman-teman berhak untuk membatasi masalahnya sendiri dengan tujuan agar esai kita menjadi lebih terarah dan solusi/rekomendasi yang diberikan dapat lebih fokus dan tepat sasaran.

Berdasarkan pengalaman pribadi, waktu 30 menit yang diberikan itu terbilang cukup cepat sebab saya hampir tidak dapat menyelesaikan esainya sampai pada bagian solusi atau rekomendasi yang dapat diberikan. Bahkan beberapa peserta lainnya tidak sempat menulis bagian solusi atau rekomendasi. (Tips: Lebih baik menulis esai tidak terlalu panjang dengan memuat hingga solusi daripada menulis yang esai yang panjang tanpa solusi).

Leaderless Group Discussion

Setelah selesai mengikuti tes menulis esai di tempat, tes berikutnya yang harus dijalani pada hari itu adalah Leaderless Group Discussion (LGD) dan kelompok saya yang terdiri dari empat orang mendapatkan giliran ketiga. Waktu yang ada kami manfaatkan untuk menentukan moderator dan notulen diskusi saat LGD nanti. Berdasarkan diskusi dengan kelompok, saya dipercayakan terpilih menjadi moderator.

Terpilih sebagai moderator dalam LGD bagi saya ada sisi baik dan kurang baiknya. Sisi baiknya, berdasarkan informasi yang saya dapat dari blog awardee sebelumnya, ada nilai tambahan yang diberikan bagi moderator. Sisi kurang baiknya, yang pertama, karena ini adalah LGD atau bisa dikatakan diskusi tanpa pemimpin, maka tidak boleh ada yang mendominasi jalannya diskusi dalam hal, semua peserta diskusi mendapatkan kesempatan yang sama dalam menyampaikan pendapatnya. Oleh karena itu, sebagai moderator, harus dengan baik mengatur jalannya diskusi agar semua peserta diskusi mendapatkan kesempatan yang sama dalam menyampaikan pendapat tanpa terkesan seperti pemimpin diskusi/rapat. Yang kedua, karena saya berusia paling muda (18 tahun) dibandingkan dengan anggota kelompok saya yang lain, hal itu tentu membuat saya semakin bertambah kecewa ketika melaksanakan LGD.

Dalam ruangan LGD kami diawasi oleh seorang Ibu psikolog yang akan menilai cara kita menyampaikan pendapat dan menjalankan diskusi serta solusi yang kita berikan terhadap penyelesaian kasus yang diberikan. Waktu yang dialokasikan untuk LGD sekitar 50 menit, tetapi kelompok saya telah selesai melakukan LGD sekitar 20 sampai dengan 30 menit saja. Dari pandangan saya, lama waktu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan LGD itu tidak mempengaruhi penilaian yang diberikan, sebab yang dinilai adalah sikap kita berbicara, dan kualitas pendapat yang diberikan.

Tips dari saya, saat mengikuti LGD, jangan lupa untuk menulis pendapat pribadi dan pendapat yang disampaikan oleh peserta diskusi lainnya pada lembaran yang diberikan oleh reviewer, sebab lembaran tersebut akan dikumpulkan setelah melaksanakan LGD. Yang terakhir jangan lupa untuk menyalami reviewer pada waktu sebelum dan setelah melaksanakan LGD.

Albert juga sempat mengunjungi Canberra oleh karena prestasi yang cukup tinggi. Foto: Albert Christian Soewongsono.
Albert juga sempat mengunjungi Canberra oleh karena prestasinya yang cukup tinggi. Foto: Albert Christian Soewongsono.

Wawancara

Keesokan harinya, tiba saatnya saya mengikuti tes yang terakhir yakni wawancara. Saat memasuki ruang wawancara, jangan lupa menyalami para pewawancara dan menanyakan terlebih dahulu apakah boleh dipersilahkan duduk atau tidak (hal ini mungkin dianggap sederhana tapi mencerminkan sopan santun yang dimiliki). Dalam ruang wawancara, ada tiga orang pewawancara yang terdiri dari dua orang akademisi (Bapak dan Ibu) dan seorang ibu psikolog yang akan menilai kepribadian masing-masing peserta seleksi. Wawancara dilakukan dalam Bahasa Inggris dan juga sedikit Bahasa Indonesia pada 10 menit terakhir dari total 30 menit waktu wawancara. Tips dari saya, apabila pewawancara menanyakan dalam Bahasa Indonesia, sebaiknya ditanyakan terlebih dahulu apakah boleh memberikan jawaban dalam Bahasa Indonesia atau Inggris.

Pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan oleh pewawancara banyak mengenai akademik dan juga aktivitas sosial seperti, bagaimana bisa mendapatkan IPK sempurna padahal banyak terlibat dalam organisasi, pengalaman waktu mengikuti kegiatan kepemudaan. Tipsnya adalah berbicara apa adanya dan menjadi diri sendiri agar tidak terkesan ‘kaku’ ketika memberikan jawaban. Sehabis wawancara, jangan lupa untuk menyalami pewawancara dan menyampaikan ucapan terima kasih sebelum meninggalkan ruangan wawancara.

Demikian adalah pengalaman yang dapat saya bagikan dari tahap mencari informasi beasiswa hingga mendapatkan pengumuman lulus seleksi substansi program Magister Luar Negeri pada 10 Maret 2016. Jika ada yang ingin berkonsultasi bisa melalui email saya di: albert_soewongsono@yahoo.co.id.

Salam LPDP!

Artikel ini sudah diterbitkan sebelumnya di website MITRA. AIYA mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada MITRA sudah membiarkan artikel ini diterbitkan lagi di sini.